Jumat, 14 November 2008

SANG PEMIMPI

Sang Pemimpi

Diposting oleh achedy pada Buku dengan 456 kali baca

Sang PemimpiMungkin buku ini sudah sering dibahas. Ini buku Best Seller, yang ketika saya membuka lembaran keduanya, saya mendapati tulisan cetakan kesepuluh sejak ditulis Juli 2006 yang lalu. Bagi anda yang tengah tergila-gila pada tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata seperti saya, anda pasti tahu bahwa ini adalah buku kedua dari tetralogi itu.

Buku di tangan saya ini adalah pinjaman dari Teguh Andoria, yang kebetulan mencari sesuap nasi di tanah ladang yang sama. Dia meminjamiku tanpa saya minta. Sebagai balas budi karena saya meminjaminya buku pertama. Adapun saya, tentu sangat senang menerimanya. Saya telah memimpikan bisa membaca semua tetralogi itu. Mimpi yang sangat sederhana, dan kelihatannya akan menjadi kenyataan. Hari kemarin, “Edensor” telah jatuh ke tangan saya. Rupanya Teguh yang juga tergila-gila dan membelinya hari senin lalu itu, dan telah mengkhatamkannya dalam tiga hari saja.

Ini memang cerita tentang mimpi. Sebenarnya mungkin cita-cita, namun karena cita-cita terlalu jauh dengan realitas, dan dalam hitungan matematis sudah menghasilkan kata tidak mungkin, maka lalu cita-cita itu hanya disebut mimpi saja. Inti buku ini adalah cerita tentang Andrea dan Arai (sepupu jauh Andrea) saat SMA. Terutama mimpinya. Suatu saat ia bermimpi untuk bersekolah di Sorbone, Perancis. Bagaimana tidak mimpi, dia anak seorang sederhana yang bayang-bayang tidak bisa kuliah saja selalu menghantui pulupuk matanya.

Adapun Arai, dia adalah tokoh baru dalam cerita ini. Dia sepupu jauh Andrea yang sedari umur 8 tahun telah yatim piatu.

Yang paling mengesankan adalah usaha kerasnya. Dia menjadi kuli panggul dan mengumpulkan uang darinya agar setelah lulus pergi ke Jawa untuk melanjutkan kuliah. Kemudian memang dia pergi ke Jawa. Tidak seperti saya yang sewaktu kuliah hanya menunggu wesel dari orang tua, dia membanting tulang mencari pekerjaan. Dia menghidupi dirinya sendiri, dan kuliah dari uang jerih payahnya sendiri. Inilah yang menurut saya paling luar biasa. Jika jarum jam bisa diputar kembali, rasanya ingin kembali ke masa kuliah. Saya akan bekerja sendiri, saya akan membiayai kuliah saya sendiri. Membaca buku ini, saya merasa sangat dipermalukan Andrea.

Dari titik inilah perjalanan menempuh mimpi dimulai. Rupanya beasiswa sekolah Perancis merupakan gateway yang akan membawa dia ke alam mimpinya itu. Buku ini sungguh memotivasi.

Saran saya kepada orang tua yang yang mempunyai masalah dengan anak-anak remajanya. Hadiahkan padanya tetralogi ini. Buku ini akan mencambuk jiwanya. Dia harus mempunyai mimpi, dan berusaha dengan keras mengejar mimpinya.

Lihatlah hati para anak muda kini, racun dari Sinetron dan Televisi telah menghitamkan hatinya, telah merapuhkan jalan fikirannya. Lalu dia layu. Tidak berani bercita-cita, apalagi bermimpi. Dia telah menyerah kalah.

Buku ini adalah penawar racun itu. Tidak rugi anda membacanya.

Tidak ada komentar: